Journal jalan jalan akhir tahun 2025 ke Solo dan Jogja
Catatan Perjalanan: Dari Jakarta, Solo, hingga Yogyakarta
Perjalanan ini dimulai jauh sebelum matahari terbit. Pukul 3.30 pagi, kami berangkat dari rumah di Jakarta. Udara terasa sejuk karena habis hujan dan masih rintik-rintik, jalanan lengang dan sunyi. Sekitar 4.15 kami tiba di stasiun, namun karena kebiasaan lama, langkah kami sempat salah arah ke Gambir—baru tersadar setelah beberapa saat bahwa tiket kami sebenarnya dari Pasar Senen. Kesalahan kecil itu justru jadi pembuka cerita perjalanan.
Setelah kembali ke jalur yang benar, kami salat Subuh, membeli kopi hangat dan sarapan sederhana, lalu bersiap naik kereta. Kereta berangkat pukul 5.40, pagi yang tenang dengan aroma kopi bercampur bau tanah basah. Di dalam kereta, waktu berjalan santai: ketiduran, terbangun untuk scroll Instagram, membaca buku, lalu menonton Netflix. Di luar jendela, langit mendung tipis dan sawah yang hijau karena hujan menemani perjalanan.
Alhamdulillah, sekitar 13.20 kami tiba di Solo. Udara siang masih terasa adem. Dari stasiun, kami berjalan kaki ke hotel, check-in, beres-beres, lalu salat Zuhur. Siang itu kami lanjut makan timlo, hangat dan ringan. Setelahnya, kami ngopi di Dungo Kauman Cafe, sambil membaca tentang kopi dan berdiskusi santai. Sore hari kami menyusuri , menikmati suasana kampung batik yang tenang. Malamnya, setelah makan malam, kami berjalan-jalan cukup lama di sebelum kembali ke hotel.
Solo Hari Kedua & Perjalanan ke Jogja
Hari kedua dimulai dengan sarapan di hotel, lalu kami menuju . Di sana kami melihat barang-barang antik—jam tua, kamera lawas, dan pernak-pernik unik—serta menemukan outfit batik yang menarik dan membelinya. Kami juga sempat berkeliling art market UMKM, membeli beberapa pernak-pernik sebagai kenang-kenangan.
Perjalanan berlanjut ke . Bersama tour guide, kami mengunjungi beberapa bagian kompleks sambil mempelajari sejarah dan nilai budaya Mangkunegaran. Setelah itu, kami mampir ke , sempat photobox sejenak, lalu kembali ke hotel untuk mengambil koper yang dititipkan.
Sore hari, kami menuju stasiun dan melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta dengan KRL, diiringi gerimis yang kembali turun, seolah mengantar kami ke kota berikutnya.
Yogyakarta: Kuliner, Malioboro, hingga Senja
Setibanya di , hujan masih rintik. Kami menuju hotel dengan mobil online, check-in, mandi, lalu makan malam ramen. Karena hari sudah larut, kami memilih beristirahat untuk menyiapkan tenaga berwisata keesokan harinya.
Pagi berikutnya, kami sarapan di hotel, lalu menyewa motor. Kami sempat ngopi di salah satu kafe di Jogja sebelum menuju . Siang hingga malam kami menikmati Malioboro—ngopi, berjalan santai, dan berbelanja oleh-oleh seperti batik dan bakpia. Malam ditutup dengan kuliner legendaris Mie Ayam Pak Pele—antre sekitar satu setengah jam, namun terbayar oleh semangkuk mie hangat.
Di hari ketiga, kami kembali ke Pasar Beringharjo untuk kuliner makanan pasar. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menuju pantai dan Obelix. Waktu tempuh sekitar satu jam, cukup terik, tapi tetap asyik. Setibanya di , kami makan dan menikmati sunset hingga sore hari—langit berwarna, angin mulai sejuk, dan perjalanan terasa lengkap.
Dari rintik hujan subuh di Jakarta, kota budaya Solo, hingga senja di Yogyakarta, perjalanan ini berjalan tanpa terburu-buru—penuh langkah kecil, rasa syukur, dan kenangan yang ingin terus diingat.
Comments
Post a Comment