Jalan jalan ke Solo

Perjalanan Hujan dari Jakarta ke Solo

Perjalanan ke Solo dimulai jauh sebelum matahari terbit. Jam 3.30 pagi, kami berangkat dari rumah. Udara sejuk karena habis hujan dan masih rintik-rintik, jalanan Jakarta pun lengang. Pukul 4.15 kami tiba di stasiun—namun kebiasaan lama sempat menipu. Tanpa mengecek tiket lagi, langkah justru mengarah ke Gambir. Tak lama kemudian kami sadar: loh, kok beda? Sebuah senyum kecil muncul—kesalahan sepele yang justru jadi pembuka cerita.

Akhirnya kembali ke rencana semula di Pasar Senen. Waktu masih cukup. Kami salat Subuh, lalu membeli kopi hangat dan sarapan sederhana. Suasana pagi terasa tenang—pengumuman kereta bergema pelan, langkah kaki jarang, aroma kopi bercampur bau tanah basah setelah hujan. Kereta berangkat pukul 5.40, cukup pagi, cukup damai.

Di dalam kereta, waktu mengalir dengan ritmenya sendiri. Sesekali kami ketiduran, terbangun untuk scroll Instagram, membuka buku beberapa halaman, lalu berpindah ke Netflix. Di luar jendela, pemandangan Jawa seperti lukisan bergerak—langit mendung tipis, sawah yang lebih hijau karena hujan, dan kota-kota kecil yang dilalui perlahan. Ada rasa nyaman yang sulit dijelaskan.

Alhamdulillah, sekitar 13.20 kami tiba di Solo. Udara siang masih terasa adem, sisa hujan pagi. Dari stasiun, kami berjalan kaki ke hotel—jaraknya dekat, pas untuk meluruskan kaki setelah duduk berjam-jam. Setelah check-in, beres-beres sebentar, kami menutup bagian pertama hari itu dengan salat Zuhur.

Perut mulai memberi isyarat. Kami makan siang timlo, hangat dan ringan—pas setelah perjalanan panjang. Dari sana, langkah berlanjut ke Dungo Kauman Cafe. Kami ngopi sambil membaca tentang kopi, membicarakan rasa, proses, dan sedikit sejarahnya. Ada diskusi kecil yang mengalir santai—tanpa agenda, tanpa target—sekadar menikmati waktu dan suasana Kauman yang teduh.

Sore menjelang, kami berjalan-jalan di sekitar Kauman Batik Village. Lorong-lorongnya tenang; motif demi motif batik terasa hidup, menghadirkan denyut budaya yang khas di setiap sudut.

Malam pun tiba. Setelah makan malam, kami melanjutkan langkah ke Ngarsopuro Night Market. Lampu-lampu menyala, keramaian terasa hangat. Berjam-jam kami berjalan, melihat jajanan, kerajinan, dan pertunjukan kecil—ramai tapi bersahabat.

Saat kaki mulai lelah dan jam makin larut, kami kembali ke hotel. Hari yang panjang terasa lengkap: dari rintik hujan subuh di Jakarta, perjalanan kereta yang tenang, hingga malam Solo yang hidup—ditutup dengan rasa syukur dan senyum yang masih tersisa.

Comments

Popular Posts